enisa choiriyah


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan formal pertama system pendidikan di Indonesia mempunyai tujuan memberikan kemampuan dasar baca, tulis, hitung, pengetahuan dan keterampilan dasar lainnya. Hasil kegiatan pembelajaran siswa terkadang dapat mencapai prestasi yang diharapkan, tetapi terkadang juga tidak. Hal ini karena daya serap masing-masing siswa berbeda dalam menerima pelajaran.
Pada anak usia SD yang sedang mengalami perkembangan dalam tingkat berpikir memerlukan stimulus untuk lebih memahami materi dalam mata pelajaran matematika agar lebih berpikir logis dan kreatif. Dengan mengajarkan matematika secara lebih kreatif diharapkan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
Menurut Johnson dan Myklebust dalam Mulyono Abdurahman (2003: 252), “matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisme adalah untuk memudahkan berfikir”. Ada juga yang mengatakan, matematika dalam arti sempit hanya berupa perhitungan yang mencakup penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, sedangkan dalam arti luas matematika melibatkan topik-topik seperti aritmatika, aljabar, dan geometri. Oleh karena itu, pembelajaran matematika sangat membutuhkan kejelian dan ketelitian guru agar siswa mampu menguasai pelajaran matematika.
Materi pelajaran matematika yang harus dipelajari di kelas IV salah satunya adalah bilangan bulat. Bilangan bulat merupakan salah satu pokok bahasan yang harus dikuasai oleh siswa. Berdasarkan hasil observasi selama pembelajaran di kelas, ternyata masih ada siswa yang belum mampu menyelesaikan operasi yang terkait pada pokok bahasan bilangan bulat, siswa kurang memahami operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Bilangan bulat adalah bilangan bukan pecahan yang terdiri bilangan bulat negatif, nol, dan bulat positif (Anonim. 2010a: 1). Bilangan bulat dinyatakan dengan B = { ..., -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ...}. Operasi hitung pada bilangan bulat yang diterapkan di SD/MI khususnya kelas IV adalah penjumlahan dan pengurangan, sedangkan perkalian dan pembagian diajarkan di kelas lebih lanjut. Materi ini diberikan secara berkelanjutan dimulai dari kelas IV semester II, kelas V semester I, dan kelas VI semester I dan II. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih memahami dan menguasai secara penuh bilangan bulat beserta operasi hitung di dalamnya. Oleh karena itu, penelitian yang mengkaji dan meneliti lebih dalam mengenai rendahnya kemampuan menghitung siswa di kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru pada operasi bilangan bulat khususnya penjumlahan dan pengurangan perlu dilakukan. Oleh karena, operasi bilangan bulat di kelas IV sebagai dasar dalam kemampuan menghitung dan apabila kemampuan menghitung pada operasi bilangan bulat di kelas IV tidak segera diatasi, maka besar kemungkinan akan menganggu pembelajaran di tingkat selanjutnya.
Salah satu penyebab rendahnya kemampuan menghitung bilangan bulat bulat yaitu karena pembelajaran yang dilaksanakan guru masih bersifat konvensional. Pembelajaran yang hanya bersifat satu arah, dimana guru bersikap lebih aktif dengan mencari dan menjelaskan materi/informasi sedangkan siswa hanya bersikap pasif mendengarkan materi/informasi yang diberikan oleh guru. Pembelajaran secara konvensional membuat siswa kurang memahami konsep dalam pelajaran matematika. Jadi siswa tidak bisa memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga kemampuan berhitungnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Menurut Jean Piaget dalam Nyimas, dkk (2007: 2-3), menyatakan bahwa “proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkret ke abstrak”. Menurut Bruner dalam Nyimas, dkk (2007: 1-6) mengungkapkan bahwa dalam “proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak-atik siswa dalam memahami suatu konsep matematika”. Oleh karena itu, perlu dirancang suatu model pembelajaran operasi bilangan bulat dengan menggunakan alat bantu mengajar (media) yang mudah didapat atau dibuat oleh guru, dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran matematika.
“Media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa terjadinya proses belajar”. (Arif S. Sadiman, 2009: 7). Media tersebut dapat berupa benda-benda konkret (misal, bangun-bangun geometri, kancing baju, lidi, dadu, gambar, atau ilustrasi dari suatu konsep, dan sebagainya) atau dapat juga berupa suatu paket alat yang di dalam penggunaannya harus mengikuti prinsip kerja yang berlaku, seperti: balok garis bilangan, manik-manik, batang Cuisenaire, neraca bilangan, blok Dienes, dan sebagainya. Semua paket alat tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan operasi hitung pada sistem bilangan tertentu.
Salah satu media yang dapat digunakan untuk menjelaskan pokok bahasan bilangan bulat adalah media manik-manik. Media manik-manik khususnya dapat digunakan untuk menjelaskan materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Media manik-manik berbentuk setengah lingkaran yang apabila diameternya dihimpitkan atau digabungkan akan membentuk lingkaran penuh. Selain itu, manik-manik dapat pula berbentuk segitiga siku-siku sama kaki yang apabila sisi miringnya dihimpitkan akan membentuk bangun persegi. Bentuk media ini dapat juga dimodifikasi ke dalam bentuk-bentuk lainnya, yang penting bentuk modifikasi alat tersebut harus sesuai dengan prinsip kerja media tersebut. Media manik-manik terdiri atas dua warna, satu warna untuk menandakan atau mewakili bilangan bulat positif, sedangkan warna yang satunya lagi untuk menandakan atau mewakili bilangan bulat negatif.
Alasan penggunaan media manik-manik adalah media manik-manik sangat sederhana, menggambarkan secara konkret proses perhitungan pada bilangan bulat, melalui media manik-manik siswa mudah mempelajari konsep operasi hitung bilangan bulat, siswa dapat menerapkan secara langsung pengoperasiannya, tidak berbahaya, siswa lebih mudah memahami bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif dengan menetralkan bilangan tersebut, menarik dan tahan lama, serta mudah dalam pembuatannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian yang relevan tentang kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Oleh karena itu penelitian ini diberi judul “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share) pada Pembelajaran Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat dengan Media Manik-manik dikelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016”.

B.       RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut di depan, maka rumusan permasalahan yang di ajukan dalam penelitian ini adalah:
Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik di kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016?
Untuk memecahkan rumusan masalah tersebut perlu di tanyakan penelitian secara terperinci berikut ini:
1.        Apakah pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik ditinjau dari ketuntasan belajar kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016?
2.        Apakah pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik jika ditinjau dari aktivitas siswa kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016?
3.        Apakah pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik jika ditinjau dari aktivitas guru kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016?
4.        Apakah pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) efektif diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik ditinjau dari respon siswa kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016?

C.      TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan utama dari penelitian adalah:
“Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik di kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016”.

Dengan adanya tujuan utama, maka terdapat tujuan-tujuan pendamping yang ikut mempengaruhi tujuan utama. Tujuan-tujuan tersebut yaitu:
  1. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik ditinjau dari ketuntasan belajar kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.
  2. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik jika ditinjau dari aktivitas siswa  kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.
  3. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik jika ditinjau dari aktivitas guru kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.
  4. Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) diterapkan dalam pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan media manik-manik ditinjau dari respon siswa kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.

D.      MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoritis
a.    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
b.    Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.
c.    Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan untuk menemukan pengetahuan baru.
2.    Manfaat Praktis
a.    Bagi siswa
1)   Siswa mampu menerapkan konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan tepat dalam kehidupan sehari hari.
2)   Media manik-manik memberikan pengaruh kepada siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa tertarik mengikuti pembelajaran dengan baik.
b.    Bagi Guru
1)   Memberikan masukan kepada guru untuk menerapkan multimedia dan media dalam proses pembelajaran.
2)   Memberikan informasi bagi guru untuk menggunakan media manik-manik sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika operasi bilangan bulat.
c.    Bagi Sekolah
1)   Memberikan masukan kepada guru dan kepala sekolah tentang pentingnya penggunaan media dalam pembelajaran matematika.
2)   Menumbuhkan iklim pembelajaran siswa aktif di sekolah.

E.       DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Bilangan Bulat merupakan bilangan yang terdiri dari bilangan cacah dan negatifnya. Yang termasuk dalam bilangan cacah yaitu 0,1,2,3,4,… sehingga negatif dari bilangan cacah yaitu -1,-2,-3,-4,… dalam hal ini -0 = 0 maka tidak dimasukkan lagi secara terpisah.
Manik-manik adalah semua jenis benda yang memiliki lubang untuk tempat masuknya benang/kawat, untuk kemudian dapat dirangkai menjadi aksesoris/hal lain yang sifatnya dekoratif. Yang dimaksud benda disini pun cukup beragam, yakni yang alami misalnya : kayu, kerang, batu, tanah liat/lempung, gading, tulang hewan. Dan yang sintetis umumnya terbuat dari : logam, plastik, resin, kain, kertas dan yang paling populer adalah kaca.
Untuk manik-manik yang menggunakan bahan baku dari alam, biasanya pada proses pembuatannya lebih banyak melibatkan unsur manusia. Mulai dari proses mengolah bahan mentah, membentuk desain hingga akhirnya memperindah tampilan manik-manik (menambahkan ukiran atau menghaluskan permukaan manik-manik tsb)
Pengertian pembelajaran kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam proses pembelajaran yang memungkinkan kerja sama dalam menuntaskan permasalahan.
TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif,  dari pada penghargaan individual (Ibrahim dkk: 2000: 3).
BAB II
KAJIAN TEORI

A.      Tinjauan Tentang Matematika
1.    Hakikat Matematika
Menurut Kline dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) “matematika adalah bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif”.
Menurut Ruseffendi dalam Heruman (2007: 1) “matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefisinikan, ke unsur yang didefisinikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil”.
Lerner dalam Mulyono Abdurrahman (2003: 252) mengemukakan bahwa ”matematika disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen kuantitas”.
Menurut Johnson dan Myklebust dalam Mulyono Abduurahman (2003: 252), “matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisme adalah untuk memudahkan berfikir”.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan dan struktur yang terorganisasi, bahasa simbolis yang memiliki fungsi praktis dan teoritisme.
2.    Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
Tujuan mata pelajaran matematika di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam  pemecahan masalah, 2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, 3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh, 4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, 5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajarai matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

B.       Pembelajaran Kooperatif
1.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Cooperative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif terjadi pencapaian tujuan secara bersama-sama yang sifatnya merata dan menguntungkan setiap anggota kelompoknya. Pengertian pembelajaran kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam proses pembelajaran yang memungkinkan kerja sama dalam menuntaskan permasalahan. Sehubungan dengan pengertian tersebut, Slavin (2005) menyatakan bahwa Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 (empat) sampai 6 (enam) orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Selanjutnya dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas  anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Pada dasarnya Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam sruktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggoita kelompok itu sendiri. Cooperative Learning juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan di antara sesama anggota kelompok.
C.      Metode Pembelajaran Kooperatif tipe TPS
1.      Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
TPS (Think-Pair-Share) tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif  dan waktu-tunggu. Pendekatan ini mula-mula dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawan dari Universitas Maryland pada tahun 1985. pendekatan ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pola diskursus di dalam kelas dan menantang asumsi bahwa seluruh kelompok Think-Pair-Share memiliki prosedur yang di tetapkan secara eksplisit untuk mengarahkan  siswa untuk lebih banyak berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain.
Langkah-langkah Think Pair Share yang di jelaskan oleh Spencer Kagan (dalam Warsono dan Hariyanto, 2012:203) sebagai berikut:
a.         Siswa duduk berpasangan
b.         Guru melakukan presentasi dan kemudian mengajukan pertanyaan.
c.         Mula mula siswa diberi kesempatan berpikir secara mandiri.
d.        Siswa kemudian saling berbagi (share) bertukar pikiran dengan pasangannya untuk menjawab pertanyaan guru.
e.         Guru memandu pleno kecil diskusi, setiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
f.          Guru memberikan penguatan tentang prinsip-prinsip apa yang harus dibahas, menambahkan pengetahuan atau konsep yang luput dari perhatian siswa saat berdiskusi dengan pasangannya.
g.         Simpulan dan refleksi

2.      Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe TPS.
Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah sebagai berikut:
a.     Siswa dapat berinteraksi dan memecahkan masalah
b.    Dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi siswa
c.     Siswa dapat atau dituntut lebih aktif dalam proses belajar mengajar
d.    Meningkatkan keterampilan berpikir siswa baik secara individual maupun kelompok
Selain memiliki kelebihan model pembelajaran  kooperatif tipe TPS memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya membutuhkan waktu yang lebih banyak karena model pembelajaran ini memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir lebih banyak, apabila jumlah siswa sangat banyak maka guru akan kesulitan untuk mengkoordinasi siswa dalam diskusi.
TPS ini juga merupakan jalan yang efektif dalam meningkatkan daya pikir siswa. Hal ini benar-benar akan dapat terjadi karena prosedurnya telah disusun sederhana sehingga dapat mendorong siswa untuk terbiasa berpikir mula-mula secara mandiri, kemudian bekerja secara berpasangan (Warsono dan Hariyanto, 2012:203).
D.      Penggunaan Media dalam Belajar
1.      Pengertian Media
Hidayati, dkk (2008: 7-3) secara harfiah kata “ media” berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk kata jamak dari “medium” yang berarti perantara atau alat untuk mencapai sesuatu.
Menurut Sri Anitah (2009: 1) “media dapat diartikan sebagai perantara atau penghubung antara dua pihak, yaitu antara sumber pesan dengan penerima pesan atau informasi”. Menurut Hidayati (2008: 7-3) Education Assiciation mendefisinikan “media sebagai benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat mempengaruhi efektivitas program instruksional”.
Menurut Arif S. Sadiman (2009: 7) “ media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi”. Smaldino dkk dalam Sri Anitah (2009: 2) “media adalah suatu alat komunikasi dan sumber informasi”. Pendapat Briggs mengatakan bahwa “media pembelajaran pada hakekatnya adalah peralatan fisik untuk membawakan atau menyempurnakan isi pembelajaran. Termasuk di dalamnya buku, video tape, slide suara, suara guru, tape recorder, modul atau salah satu komponen dari suatu system penyampaian”.
Dari pendapat- pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai perantara atau penghubung untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima melalui alat indra, sehingga dapat meransang pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian siswa yang termasuk di dalamnya buku, video tape, slide suara, suara guru, tape recorder dan modul.
2.      Media Manik-manik
Berdasarkan uraian di atas media manik-manik tergolong dalam media visual yang tidak diproyeksikan. Media manik-manik termasuk jenis “Realita” atau disebut juga objek adalah benda yang sebenarnya dalam bentuk utuh.
Manik-manik berbentuk setengah lingkaran yang apabila diameternya dihimpitkan atau digabungkan akan membentuk lingkaran penuh. Bentuk media ini dapat juga dimodifikasi ke dalam bentuk-bentuk lainnya, yang penting bentuk modifikasi media ini harus sesuai dengan prinsip kerja media tersebut. Media manik-manik terdiri atas dua warna, satu  warna untuk menandakan atau mewakili bilangan bulat positif, sedangkan warna yang satunya lagi untuk menandakan atau mewakili bilangan bulat negatif. Bilangan nol diperlihatkan oleh dua manik-manik dengan warna berbeda yang dihimpitkan pada sisinya, sehingga berbentuk lingkaran. Bentuk netral ini digunakan pada saat melakukan operasi pengurangan a – b, dengan b lebih besar dari a, atau b merupakan bilangan negatif. (Yumiati & Elang Krisnadi, 2004).
Manik-manik berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari sterofoam. Bilangan bulat positif diwakili dengan manik-manik (sterofoam) berwarna merah, sedang bilangan bulat negatif diwakili dengan manik-manik (sterofoam) warna putih. Himpitan manik-manik yang berwarna merah dengan manik-manik berwarna putih menunjukkan bilangan nol.
Contoh penggunaan media manik-manik dalam operasi bilangan bulat
1)      Operasi Hitung Penjumlahan
a.    Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif
Contoh: Hitunglah 5 + 4 = .....
Penghitungan dilakukan dengan manik-manik. Langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan media manik-manik yang akan digunakan.
2.      Meminta siswa mengambil 5 manik-manik merah, kemudian mengambil lagi 4 manik-manik merah yang menyatakan bilangan positif, ditempatkan pada wadah/ meja.
3.      Siswa diminta untuk mencacah banyaknya seluruh manik-manik merah yang ada dalam wadah/ meja.
4.      Ada 9 manik-manik, maka hasil perhitungan 5 + 4 = 9

b.    Penjumlahan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif
Contoh: Hitunglah 5 + (-4) = .....
Penghitungan dilakukan dengan manik-manik. Langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan media manik-manik yang akan digunakan.
2.      Meminta siswa mengambil 5 manik-manik merah yang menyatakan bilangan positif. Mengambil 4 manik-manik putih yang menyatakan bilangan negatif, ditempatkan pada wadah/ meja.
3.      Meminta siswa untuk mengamati dan mencacah manik-manik yang tidak mempunyai pasangan.
4.      Ada 1 manik putih yang tidak mempunyai pasangan.
5.      Hasil perhitungan 5 + (-4) = 1

c.    Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif
Contoh: Hitunglah (-5) - 4 = .....
Penghitungan dilakukan dengan manik-manik. Langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan media manik-manik yang akan digunakan.
2.      Meminta siswa untuk mengambil 5 manik-manik warna putih dan mengambil 4 manik-manik warna merah. Tidak bisa dikurangi, maka guru menjelaskan kepada siswa bahwa 5 dapat dinyatakan dengan atau
3.      Meminta siswa untuk mrncari hasil pengurangan, yaitu dengan mengambil 4 manik-manik merah dari pasangan.
4.      Tersisa 9 manik-manik putih yang mewakili bilangan 9.
5.      Jadi hasil penghitungan (-5) - 4 = -9

d.   Pengurangan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negatif
Contoh: Hitunglah (-5) - (-4) = .....
Penghitungan dilakukan dengan manik-manik. Langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Menyiapkan media manik-manik yang akan digunakan.
2.      Meminta siswa mengambil 5 manik-manik putih, karena (-5) dikurangi (-4) maka ambil 4 manik-manik merah dari 5 manik-manik merah tersebut.
3.      Sisanya tinggal 1 manik-manik putih.
4.      Jadi hasil penghitungan -5 – (-4) = -1
Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran dengan menggunakan media manik-manik untuk materi operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan berpengaruh terhadap aktivitas siswa. Siswa menjadi tertarik dan aktif dalam pembelajaran, siswa dapat menerapkan secara langsung pengoperasian media manik-manik, dengan cara mengotak-atik manik-manik untuk menemukan jawaban yang benar, siswa dapat belajar sambil bermain. Keadaaan ini akhirnya membuat siswa mudah mempelajari konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan teori Bruner bahwa dalam proses belajar anak diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang khusus dan mengotak-atik alat peraga, sehingga siswa akan memahami suatu konsep matematika dari berbuat atau melakukan sesuatu.

E.       Materi Pembelajaran dalam Penelitian
Operasi Hitung pada Bilangan bulat
1.      Operasi Penjumlahan
Operasi penjumlahan pada bilangan cacah merupakan aturan yang mengaitkan setiap pasang bilangan cacah dengan bilangan cacah yang lain. Jika a dan b adalah bilangan cacah, maka jumlah dari kedua bilangan tersebut dilambangkan dengan “a + b” yang di baca “a tambah b” atau “jumlah dari a dan b”.
Jumlah dari a dan b diperoleh dengan menentukan bilangan cacah gabungan himpunan yang mempunyai sebanyak a anggota dan himpunan yang mempunyai b anggota, asalkan kedua himpunan tersebut tidak mempunyai unsur persekutuan.
Jika a dan b bilangan cacah, maka definisi penjumlahan bilangan tersebut a + b. Tetapi bila sedikitnya satu dari a dan b merupakan bilangan bulat negatif, maka definisi penjumlahannya sebagai berikut:
1)   a + (- b) = - (a + b) jika a dan b bilangan bulat tak negatif.
2)   a + (-b) = a – b jika a dan b bilangan bulat tak negatif serta a > b.
3)   a + (-b) = 0 jika a dan b adalah bilangan bulat tak negatif dan a = b.
4)   a + (-b) = - (b – a) jika a dan b adalah bilangan bulat tak negatif
dan a < b.
Berdasarkan konsep penjumlahan diatas untuk memperjelas berikut contoh-contoh penjumlahan:
1.    -3 + (-5) = - (3 + 5) = 8
2.    7 + (-3) = 7 – 3 = 4
3.     4 + (-4) = 0 dan 2 + (-2) = 0
4.    3 + (-7) = -4

2.      Operasi Pengurangan
Operasi pengurangan bilangan cacah merupakan kebalikan dari operasi penjumlahan. Bilangan cacah mendefinisikan pengurangan dengan menggunakan penjumlahan. Jika bilangan cacah a dikurangi dengan bilangan cacah b menghasilkan bilangan cacah c (dilambangkan dengan a – b = c), maka operasi penjumlahan yang terkait adalah b + c = a.
Bilangan bulat mendefinisikan pengurangan dengan cara yang sama dengan bilangan cacah yaitu dengan penjumlahan. Definisi pengurangan bilangan bulat sebagai berikut: jika a dan b bilangan bulat, yang disebut a - b adalah sebuah bilangan bilangan bulat x yang bersifat b + x = a. Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa a – b = x jika dan hanya jika a = b + x. Sifat pengurangan bilangan bulat “jika a dan b bilangan bulat, maka a – b = a + (-b)”.
Contoh:
1. (-2) – 3 = -5 sebab 3 + (-5) = -2
2. (-6) – (-2) = -4 sebab (-2) + (-4) = -6
3. 5 – (-2) = 7 sebab 7 + (-2) = 5

F.       Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dipandang relevan dengan penelitian ini, yaitu:  Ratna Puspitarini penelitiannya yang berjudul: “Peningkatan Kemampuan Berhitung Bilangan bulat melalui Media Garis Bilangan pada Siswa Kelas IV MI Tarbiyatul Islamiyah Bumirejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/ 2016”, menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan media garis bilangan dapat meningkatkan kemampuan berhitung bilangan bulat. Terbukti terjadi peningkatan rata-rata kelas, yaitu siklus I nilai rata-rata kelas 6,88. Siklus II nilai rata-rata kelas 5,97 dan siklus III nilai rat-rata kelas 7,12. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan media garis bilangan dapat meningkatkan kemampuan berhitung bilangan bulat siswa kelas IV MI Tarbiyatul Islamiyah Bumirejo Kepohbaru Bojonegoro.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya, yaitu penelitian yang dilakukan sama mengenai kemampuan menghitung bilangan bulat pada kelas IV. Perbedaannya, pada penggunaan media yang digunakan. Peneliti menggunakan media manik-manik untuk meningkatkan kemampuan menghitung bilangan bulat.
Penelitian tersebut dijadikan tolok ukur dan pembanding dengan penelitian yang akan dilakukan, yaitu terbukti dengan penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. Penelitian ini menekankan peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui media manik-manik pada siswa kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.

G.      Kerangka Berfikir
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau guru. Kemampuan menghitung bilangan bulat khususnya penjumlahan dan pengurangan siswa kelas IV MI Islamiyah Simorejo masih rendah dibawah KKM disebabkan pembelajaran yang dilaksanakan masih bersifat konvensional, yaitu satu arah dan tidak menggunakan media pembelajaran.
Tindakan yang dilakukan peneliti untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan menggunakan media manik-manik dalam proses pembelajaran bilangan bulat. Pengunaaan media manik-manik yang sesuai dengan materi dan tingkat perkembangan siswa dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam melakukan penghitungan bilangan bulat, karena siswa dapat memegang, melihat dan memindahkan manik-manik. Kegiatan siswa secara langsung dalam mengotak-atik manik-manik dapat mengembangkan keterampilan intelektual dan psikis siswa yang akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hal tersebut, dengan menggunakan media manik-manik dapat meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada siswa kelas IV MI Islamiyah Simorejo.

























BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Dimana penelitian ini akan mendeskripsikan tentang aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar. Hasil belajar siswa dan respons siswa setelah mengikuti pelaksanaan pembelajaran. Penerapan  pembelajaran kooperatif tipe Think-pairs-Share (TPS) pada pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016.
B.     Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan sebuah cara yaitu “one shot case study design”. Desain penelitian ini tidak memerlukan kelas kontrol, tetapi hanya menggunakan satu kelompok kelas yang diukur dan diamati, kelas tersebut diberikan perlakuan berupa penerapan metode kooperatif tipe Think-pairs-Share (TPS) dengan media manik-manik pada operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Selama pemberian perlakuan atau kegiatan belajar mengajar juga dilakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan aktivitas guru. Setelah memberikan perlakukan terhadap kelompok kelas yang diukur dan diamati diadakan tes akhir belajar siswa untuk mendapatkan nilai postes.
Perlakuan yang dimaksud yaitu perlakuan observasi aktivitas siswa dan perlakuan observasi aktivitas guru.
C.    Prosedur Penelitian
1.      Perencanaan Penelitian
Peneliti menyusun rencana untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi sebagai berikut:
a.    Menerapkan waktu penelitian
b.    Mengidentifikasi materi
c.    Menetapkan materi pelajaran
d.   Menyusun silabus,  rencana pembelajaran (RP) dan LKS
e.    Membuat insrumen-instrumen yang diperlukan untuk penelitian, yaitu sebagai berikut:
1)        Tes
2)      Lembar pengamatan aktivitas siswa selama KBM
3)      Lembar pengamatan aktivitas guru selama KBM
4)      Angket
2.      Pelaksanaan Penelitian
Sebelum menerapkan model pembelajarannya kooperatif metode Think-Pairs-Share (TPS) dengan media manik-manik, peneliti membagi kelompok dua-dua atau sebangku, setelah itu peneliti mengajarkan mata pelajaran matematika pada pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menerapkan model pembelajaran Think-Pairs-Share (TPS) dengan media manik-manik. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat mengamati aktivitas siswa.
Table 3.2
Langkah-Langkah Pembelajaran Tipe TPS
Fase Tipe TPS
Kegiatan guru
Fase 1: Menyajikan tujuan pembelajaran dan perangkat pembelajaran
Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran
Fase 2: Menyajikan informasi
Guru menjelaskan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan siswa yaitu mengerjakan LKS dengan memakai alat hitung manik-manik secara kelompok atau sebangku dan membuat rangkuman.
 Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam tim belajar
Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
Fase 4: Membantu kelompok tim dan kajian tim
Guru berkeliling kelas, mengamati dan memberikan bantuan penjelasan seperlunya bagian-bagian tertentu yang belum difahami siswa.
Fase 5: Melaksanakan tes berdasarkan materi kajian
Guru menunjuk beberapa orang siswa dari kelompok yang berbeda (mewakili kelompoknya masing-masing) untuk menuliskan hasil pekerjaanya di papan tulis dan mempresentasikan atau menjelaskan kepada teman temannya.
Fase 6: Memberikan penghargaan terhadap kinerja kelompok
Guru memberi penghargaan secara verbal kepada hasil kerja siswa
a.    Kegiatan Awal
1)   Guru mengucapkan salam
2)   Guru mengabsen siswa
3)   Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran
4)   Guru menginformasikan materi pelajaran yang akan diajarkan yaitu operasi hitung bilangan
5)   Guru menginformasikan model pembelajaran yang akan digunakan.
b.    Kegiatan Inti
1)   Tahap Pengantar
a)      Guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
b)      Guru menjelaskan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan siswa yaitu mengerjakan LKS secara kelompok atau sebangku dan membuat rangkuman.
2)   Tahap Aktivitas/Pemecahan Masalah
a)    Guru meminta siswa mengerjakan soal LKS secara kelompok dengan  memakai alat hitung manik-manik yang sudah disediakan oleh peneliti
b)    Guru berkeliling kelas, mengamati dan memberikan bantuan penjelasan seperlunya bagian-bagian tertentu yang belum difahami siswa.
c)    Guru membagikan LKS
3)   Tahap Saling Berbagi dan Berdiskusi
a)    Guru menunjuk beberapa orang siswa dari kelompok yang berbeda (mewakili kelompoknya masing-masing) untuk menuliskan hasil pekerjaanya di papan tulis dan mempresentasikan atau menjelaskan kepada teman temannya.
b)   Guru meminta kelompok lain untuk memberikan tanggapan (pertanyaan/komentar) terhadap hasil pekerjaan kelompok penyaji. Guru dapat pula memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk merangsang siswa lebih berfikir.
4)   Tahap Merangkum
a)    Setelah berdiskusi, guru meminta siswa memperhatikan kembali hasil pekerjaanya.
b)   Guru meminta siswa secara individual membuat rangkuman/mencatat hal-hal penting tentang materi yang telah di pelajari.
5)    Tahap Penilaian Unit Materi
       Meminta siswa secara individual mengerjakan soal
c.    Penutup
1)   Guru memberi penghargaan secara verbal kepada hasil kerja siswa
2)   Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini
3)   Guru mengarahkan siswa untuk mengkaji ulang materi yang telah di pelajari
Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam
D.    Metode Pengumpulan Data
Data penilaian di peroleh dengan menggunakan tiga metode sebagai berikut:
1.      Tes Hasil Belajar
Tes ini bertujuan untuk mendapatkan nilai siswa yang mencerminkan hasil belajar materi Penjumlahan dan pengurangan dengan media manik-manik.
Langkah-langkah pengumpulan data dengan metode tes adalah:
a.    Persiapan tes
Menyusun soal berdasarkan tujuan pembelajaran, menyusun jawaban, menyusun jawaban penskoran dan mengadakan soal.
b.    Pelaksanaan tes
Membagi soal kepada siswa, mengawasi pelaksanaan tes serta mengumpulkan jawaban.
c.    Penilaian/koreksi
Menskor hasil tes serta, meyusun hasil tes pada tabel.
2.      Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara teliti. Untuk memaksimalkan hasil observasi, biasanya peneliti akan menggunakan alat bantu yang sesuai dengan kondisi lapangan. Maka peneliti dianjurkan untuk dapat memilih yang tepat dan dapat memaksimalkan pengambilan data di lapangan (Arifin, 2010:101).
Observasi digunakan untuk mendapatkan data tentang:
a)     Lembar pengamatan aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran
Dalam hal ini siswa yang di ambil sampel sebanyak 4 siswa yang di observasi oleh satu orang pengamat, dengan cara sebagai berikut:
1)      Pengamat boleh melakukan dengan duduk atau berdiri di dekat siswa yang diamati.
2)      Setiap 3 menit pengamat melakukan aktivitas siswa yang dominan selanjutnya pengamat menuliskan kode kategori pengamatan.
3)      Guru dibantu pengamat mengisi lembar observasi aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran yaitu 35 menit dalam satu jam dan 70  menit dalam satu pertemuan.
4)       pengamat dilakukan bersamaan sejak dimulai sampai akhir kegiatan mengajar.
5)      Pengamatan ditujukan pada kelompok (sebangku) yeng telah di tentukan dan diamati oleh pengamat.
b)    Lembar pengamatan aktivitas guru selama mengikuti proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)   Pengamat yang melakukan pengamatan berada pada tempat yang dapat melihat  secara jelas guru  yang sedang mengajar.
2)   Setiap tiga menit pengamat melakukan pengamatan aktivitas siswa yang dominan dan pengamat menuliskan hasil pengamatan aktivitas siswa yang dominan.
3)   Kode-kode kategori ditulis secara berurutan sesuai dengan aktivitas guru selama pembelajaran
4)   Pengamatan dilakukan sejak guru memulai pelajaran sampai selesai pelajaran.

Langkah-langkah pengumpulan data dengan metode observasi adalah sebagai berikut:
1)   Persiapan
Menyusun lembar observasi yang terdiri dari lembar aktivitas siswa dan guru selama proses belajar mengajar.
2)   Pelaksanan
Mengisi lembar observasi selama kegiatan inti yang di lakukan oleh pengamat.
3.      Angket
Kuisioner atau angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data dari responden. Pertanyaan yang berhubungan erat dengan masalah penelitian yang hendak dipecahkan, disusun, dan disebarkan ke responden untuk memperoleh informasi di lapangan (Arifin, 2010:97).
Angket digunakan untuk mendapatkan data respons siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan media manik-manik pada pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas IV MI Islamiyah Simorejo Kepohbaru Bojonegoro Tahun Pelajaran 2015/2016 yang meliputi: materi pelajaran, LKS, suasana kelas, penampilan guru, cara mengajar guru, minat siswa untuk mengikuti pelajaran kooperatif tipe TPS dengan menggunakan media manik-manik, dan kejelasan LKS. Angket tersebut bersifat terbuka, sehingga siswa bebas menuliskan tanggapannya.
Langkah-langkah pengambilan data  angket sebagai berikut:
a.    Setelah kegiatan belajar mengajar berakhir, guru membagikan lembar angket.
b.   Guru menjelaskan tata cara pengisian angket.
c.    Siswa mengisi lembar angket.
d.   Guru mengumpulkan semua lembar angket respons siswa.
E.     Metode Analisis Data
Teknik yang digunakan untuk menganalisis data antara lain sebagai berikut:
1.      Analisis Hasil Belajar Siswa
Tingkat hasil belajar siswa dapat dilihat pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan oleh masing-masing sekolah, hal ini dikarenakan setiap sekolah mempunyai KKM yang berbeda-beda. Penentuan KKM  tersebut berpedoman pada tiga pertimbangan, yaitu: kemampuan setiap peserta didik; fasilitas (sarana) setiap sekolah dan daya dukung setiap sekolah. Dalam penelitian ini pihak sekolah telah menentukan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 75% dari skor maksimal.    
Sedangkan setiap siswa di katakan tuntas belajarnya (ketuntasan individu) jika hasil belajar mencapai  >85%  siswa yang telah tuntas belajarnya, dengan rumus sebagai berikut:
 X 100% 
2.      Aktivitas Siswa selama Pembelajaran

 
Data hasil observasi aktivitas siswa di tentukan dengan cara mencari frekuensi rata-rata dari semua anggota kelompok sampel, kemudian menghitung prosentase frekuensi indikator pada masing-masing pertemuan dengan rumus. Rumus yang digunakan untuk menghitung tingkat keaktifan siswa pada tiap-tiap indikator adalah sebagai berikut: 

Keterangan:
Si =    Persentase frekuensi aktivitas siswa yang muncul pada indikator ke-i.
Ai =   Frekuensi aktivitas siswa yang muncul pada indikator ke-i.
B =    Jumlah ideal frekuensi aktivitas siswa yang muncul pada indikator ke-i berdasarkan skenario.
        Sedangkan untuk mengetahui persentase aktivitas siswa tiap pertemuan selama proses pembelajaran adalah sebagai berikut:


 
 
Keterangan :
Sim =    Persentase frekuensi aktivitas siswa yang teramati pada indikator ke–i oleh pengamat.
Aim = Frekuensi aktivitas siswa yang teramati pada indikator ke–i oleh pengamat.
Nm  =   Jumlah keseluruhsn frekuensi aktivitas siswa yang teramati oleh tiap-tiap pengamat.
Siswa dikatakan aktif jika persentase aktivitas aktif  ≥ 75%. Jadi, penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dikatakan efektif jika persentase aktivitas siswa > 75%.
3.      Aktivitas Guru dalam Mengelola Pembelajaran
 
Untuk mengetahui persentase keaktifan guru tiap indikator terhadap selama pembelajaran berlangsung disetiap pertemuan, dihitung dengan rumus:
         
Keterangan:
Gi = Persentase frekuensi aktivitas guru yang muncul pada indikator ke-i.
Zi  = Rata-Rata frekuensi aktivitas guru yang muncul pada indikator ke-i.
N = Jumlah ideal aktivitas guru yang muncul pada indikator ke-i.
Sedangkan untuk mengetahui aktivitas guru selama pembelajaran berlangsung di setiap pertemuan, dihitung dengan rumus:


 
 


Keterangan:
Gi =   Persentase frekuensi aktivitas guru yang teramati pada indikator ke–i.
Gim = Persentase frekuensi aktivitas guru yang teramati pada indikator ke–i oleh tiap-tiap pengamat.
Zim  = Frekuensi aktivitas guru yang teramati pada indikator ke – i oleh tiap-tiap pengamat.
Nm   = Jumlah keseluruhan frekuensi aktivitas guru yang teramati oleh tiap-tiap pengamat.
Aktivitas guru dikatakan efektif, jika aktivitas aktif ≥ 75%. Jadi, penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dikatakan efektif jika persentase aktivitas guru > 75%.
4.      Data Respon Siswa
Dalam menganalisa respon siswa, digunakan presentasi dari hasil penyebaran angket dari banyak siswa yang mmemberi respon di bagi banyak siswa yang mengisi angket dikalikan 100%,  caranya yaitu:
 x 100%
Respon siswa dikatakan positif, jika prosentase setiap aspek berada dalam kategori senang atau tidak dengan member cek-in (v) pada angket yang sudah disiapkan oleh peneliti, yang hasilnya menunjukkan kurang lebih atau sama dengan 75%.
Penetapan efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) didasarkan pada:
1.    Ketuntasan belajar klasikal dalam suatu kelas > 85 %.
2.    Persentase aktivitas aktif siswa  > 75%.
3.    Persentase aktivitas aktif guru > 75%.
4.    Persentase respon positif siswa > 75%.
Semua hasil analisis data yang digunakan adalah untuk menjawab rumusan masalah. Hasil analisis data tersebut adalah data hasil tes (ketuntasan belajar)  siswa, data aktifitas siswa, data aktifitas guru dan data respon siswa.













DAFTAR PUSTAKA

§  Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan. 2013. Jurnal Pendidikan Edumedia. Lamongan: Dispendik Kab. Lamongan.
§  Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning. London: Allymand Bacon.
§  Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
§  Supardjo. 2004. Matematika Gemar Berhitung 4. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
§  Uno, Hamzah B. 2011. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
§  Warsono dan Hariyanto. 2012. Pembelajaran Aktif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

0 Responses

Posting Komentar